SPESIALIS PENYAKIT DALAM CILACAP

SPESIALIS PENYAKIT DALAM CILACAP
RSI FATIMAH CILACAP

Saturday, January 4, 2020

SINDROMA DISPEPSIA











# Secangkir Teh Hangat #  Edisi Ketiga# -- 5 Januari 2020


Oleh dr.Santo, Sp.PD
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSI Fatmah Cilacap

Dispepsia

     Dalam Konsensus ROMA III yang khusus membicarakan tentang kelainan gastrointestinal fungsional / dyspepsia fungsional didefenisikan sebagai      satu atau lebih keluhan rasa penuh setelah makan, cepat kenyang, nyeri ulu hati/epigastrik, rasa terbakar di epigastrium. Tidak ada bukti kelainan struktural (termasuk didalamnya pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas) yang dapat menerangkan penyebab keluhan tersebut. Keluhan itu terjadi selama 3 bulan dalam waktu 6 bulan terakhir sebelum diagnosis ditegakkan.

        Jadi di sini ada batasan waktu yang ditunjukkan untuk meminimalisasikan kemungkinan adanya penyebab organik. Seperti dalam algoritma penanganan dyspepsia  bahwa bila ada alarm symptom seperti penurunan berat badan, timbulnya anemia, melena, muntah, yang sering dan memberat, maka merupakan petunjuk awal akan kemungkinan adanya penyebab organik yang membutuhkan pemeriksaan penunjang diagnostic secara lebih intensif seperti endoskopi dan sebagainya.

Gambar 1. Gambaran organ lambung


 Dalam usaha untuk mencoba  kearah praktis pengobatan, dispepsia fungsional ini dibagi 3 kelompok yaitu :
  1. .     .Dispepsia tipe seperti ulkus, dimana yang lebih dominan adalah nyeri epigastrik    (Baca juga  Artikel Tukak Lambung)
  2. .       Dispepsia tipe seperti dismotilitas, dimana yang lebih dominan adalah kembung, mual muntah rasa penuh, cepat kenyang.
  3. .     Dispepsia tipe non-spesifik, diaman tidak ada ulkus yang dominan.

        Sebelum era Konsensus ROMA III, ada dyspepsia tipe refluks dalam  alur penanganan dyspepsia. Tapi saat ini kasus dengan keluha tipikal refluks seperti adanya hearth burn atau regurgitasi, langsung dimasukkan dala alur penyakit gastroesophageal reflux disease.

Bagaimana Perjalanan penyakitnya : 
     Berbagai hipotesis mekanisme telah diajukan untuk menerangkan pathogenesis terjadinya gangguan ini. Proses patofisiologi yang paling banyak dibicarakan dan potensial berhubungan dengan dyspepsia fungsional adalah hipotesis asam lambung dan inflamasi, hipotesis gangguan motorik, hipotesis hipersensitivitas visceral, serta hipotesis tentang adanya gangguan psikologik atau psikiatrik. Sekresi asam lambung pada Kasus dengan dyspepsia fungsional, umumnya mempunyai tingkat sekresi asam lambung, baik sekresi basal maupun dengan stimulasi pentagastrin, yang rata-rata normal. Diduga adanya peningkatan sensitivitas mikosa lambung terhadap asam yang menimbulkan rasa tidak enak di perut.

Helicobacter pylori(HP)
    Dari berbagai laporan kekerapan Hp pada dyspepsia fungsional sekitar 50% dan tidak berbeda bermakna dengan angka kekerapan Hp pada sekelompok orang sehat.

Dismotilitas Gastrointestinal
      Berbagai studi melaporkan bahwa pada dyspepsia fungsional terjadi perlambatan pengososngan lambung , adanya hipomotilitas antrum (sampai 50% kasus), gangguan akomodasi lambung waktu makan, disritmia gaster dan hypersensitivitas visceral. Pada kasus dyspepsia fungsional yang mengalami perlambatan pengosongan lambung berkorelasi dengan keluhan mual, muntah dan rasa penuh di ulu hati.

Ambang Rangsang Persepsi
     Dinding usus mempunyai berbagai reseptor, termasuk reseptor kimiawi, reseptor mekanik dan nocireceptor. Dalam studi tampaknya kasus dyspepsia ini mempunyai hypersensitivitas visceral terhadap distensi balon digaster atau duodenum. Bagaimana mekanismenya, masih belum dipahami.

Disfungsi Autonom 
      Disfungsi persyarafan vagal diduga berperandalam hipersensitivistas gastrointestinal pada kasus dyspepsia fungsional. Adanya neuropati vagal juga diduga berperan dalam kegagalan relaksasi bagian proksimal lambungwaktu menerima makanan sehingga menimbulkan gangguan akomodasi lambung dan rasa cepat kenyang.

Aktivitas Mioelektrik Lambung
     Adanya disritmia mioelektrik lambung pada pemeriksaan elektrogastrografi berupa tachygastria, bradygastria pada lebih kurang 40% kasus dyspepsia fungsional,tapi hal ini bersifat inkonsisten.

Hormonal
     Dilaporkan adanya penurunan kadar hormona motilin yang menyebabkan gangguan motilitas antroduodenal dan prolaktin memperngaruhi kontraktilitas otot polos dan memperlambat waktu transit gastrointestinal.

Diet dan Faktor lingkungan
     Adanya intoleransi makanan dilaporkan lebih sering terjadi pada kasus dyspepsia fungsional dibandingkan kasus control.

Psikologis
      Adanya stres akut fungsi gastrointestinal  dan mencetuskankeluhan pada orang sehat. Dilporkan adanya penuruna kontraktilitas lambung yang mendahului keluhan mual, setelah stilmulus stress sentral.


Gambaran Klinis


         Disarankan untuk mengklasifikasi dispepsia funsional menjadi beberapa sub grup. Didasarkan pada keluhan yang paling mencolok atau dominan, Bila nyeri ulu hati yang dominan dan disertai nyerin pada malam hari dikategorikan sebagai dyspepsia fungsional tipe seperti ulkus (ulcer like dyspepsia). (Baca juga Artikel Gejala Mirip Maag)
·                    Bila kembung, mual, cepat kenyang merupakan keluhan yang sering dikemukakan dikategorikan sebagai dyspepsia fungsional tipe seperti dismotilitas( dismotility like dyspepsia). Bila tidak ada keluhan yang bersifat dominan, dikategorikan sebagai dyspepsia non spesifik.


Terapi

1.   Diet : Menghindari makanan yang merangsang seperti pedas, asam, tinggi lemak dan kopi.
2.  Medikamentosa ; Antasida, penyekat H2 reseptor, penghambat pompa proton, sitoproteksi 
3.    Psikoterapi.


Smoga share informasi kesehatan ini bermanfaat dalam menjaga kesehatan anda, Konsultasikan kesehatan anda pada dokter keluarga anda.

#Dispepsia #Ulkus lambung #Gastritis #Gangguan pencernaan #Diet Lambung











No comments:

Post a Comment