SPESIALIS PENYAKIT DALAM CILACAP

SPESIALIS PENYAKIT DALAM CILACAP
RSI FATIMAH CILACAP

Tuesday, November 22, 2011

Catatan dokter Agus tentang DRR (124)

Pada hari Rabu, tanggal 26 Mei 2010

    Jam 15.00 Wib, Di Sidareja, Tim Fasilitator DRR yaitu dr.Agus, bu Wiwin, dan mas Indra mengadakan rapat evaluasi tentang kegiatan DRR yang telah dijalankan di desa Gunungreja, selain itu juga membahas hal-hal yang berkaitan dengan sistem drainase, vertikultur, dan jalur evakuasi.

1.Sistem Drainase:
        Bahwa kegiatan pembersihan / perbaikan / pembuatan drainase di wilayah gunungreja dilakukan secara bersama-sama atau gotong royong , hal ini berdasarkan hasil musyawarah warga desa gunungreja dan mereka akan melakukan pemeliharaan / maintenance drainase ini secara terus menerus supaya sistem drainase di desa gunungreja tetap berfungsi dengan baik. Perbaikan drainase merupakan salah satu dari rencana aksi yang sudah disepakati warga desa gunungreja berdasarkan kajian pedesaan Partisipatif. Perbaikan drainase ini sangat bermanfaat bagi warga desa gunungreja karena saluran air menjadi lancar, pada saat terjadi hujan sirkulasi air bisa lancar sehingga tidak banyak menggenang, hal ini bisa mengurangi resiko banjir. Bagi daerah kelompok rentan sistem drainase sangat bermanfaat. Ada musyawarah dari perwakilan-perwakilan RT / RW dari desa gunungreja yang menghasilkan kesepakatan bahwa sistem drainase yang kurang berfungsi dengan baik harus diperbaiki kondisinya. Dengan swadaya yang ada berupa tenaga , pikiran, dan dana yang sangat terbatas, masyarakat ingin tetap memiliki sistem drainase yang baik, hal ini menjadi pemikiran mereka sebagai salah satu cara untuk mengurangi resiko banjir. Masyarakat gunungreja sangat setuju bahwa sistem drainase sangat perlu diperbaiki

2.Sistem Vertilkutur
      Pengetahuan Masyarakat gunungreja tentang pertanian masih bersifat tradisional,tim fasilitator DRR Perdhaki unit sidareja berusaha memperkenalkan, mencoba dan mempraktekan tentang salah satu metode pertanian modern. Berdasarkan hasil KPP, masyarakat gunungreja memikirkan bagaimana agar bisa memanfaatkan pertanian walaupun terjadi banjir, Vertikultur ini dipilih untuk diperkenalkan dan di kembangkan di gunungreja dengan alasan metode ini sangat tepat untuk dikembangkan di daerah yang rawan banjir karena tanaman dengan media bokashi ini bisa dipindah-pindahkan ke tempat yang lebih aman dari genangan air. Jadi sistem vertikultur sebelum program PRB masyarakat belum mengenal sistem ini. Media vertikultur ini membutuhkan bahan bahan antara lain sampah sampah yang sudah busuk sebagai sumber pupuk hijau, Banyaknya sampah yang belum termanfaatkan menjadi salah satu pemikiran mereka berdasarkan kajian (KPP bulan januari 2009 dan 2010). Sampah ini bisa dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dalam pembuatan bokashi ini. Harapannya dengan mengembangkan vertikultur bisa mengatasi pemenuhan kebutuhan sayuran bagi keluarga (terlebih pada saat terjadi banjir) mengingat pada saat banjir sulit untuk mendapatkan sayuran.Sistem ini bisa memberikan manfaat bagi semua lapisan warga masyarakat, hal ini ditegaskan dan sepakati oleh masyarakat tersebut bahwa pengetahuan tentang vertikultur sangat penting, hal ini ditunjukan dalam pelaksanaan Pelatihan pertanian yang dilakukan beberapa kali di desa Gunungreja dan tempat lahan percobaan di SMK yos Sudarso sidareja, Saat ini ada beberapa warga masyarakat desa gunungreja sebagai motor penggerak dalam mengembangkan vertikultur ini (Bp Ibrahim, Bp. Halimi, Bp. Ranu, Bp. Busro, Bp. Sohil, bu salimin). Dengan pengembangan teknik vertikultur dimasing-masing keluarga yang bisa diajarkan ke seluruh warga desa gunungreja melalui pembinaan pada masyarakat sehingga konsep ini bisa diterima secara menyeluruh di masyarakat desa gunungreja, yaitu melalui pelatihan-pelatihan atau pendampingan. Sistem vertikultur ini merupakan salah satu konsep yang diperkenalkan oleh tim fasilitator di desa gunungreja sebagai alternatif untuk kesiapsiagaan bahan makanan terutama sayuran yang siap saji, memang di wilayah ini tidak terjadi sampai bahaya kelaparan dari bahan pangan tetapi sebagian besar pertanian ini terendam banjir sehingga terjadi kerusakan di bidang pertanian terutama padi. Lumbung berfungsi untuk menyimpan padi bukan sayuran, sehingga fasilitator perlu memikirkan alternatif pemenuhan yang lain (tidak hanya padi tetapi juga yang lain termasuk sayuran). Hal ini diangkat berdasarkan keluhan masyarakat yang kita dengarkan pada saat mereka sharing di KPP tentang berbagai kesulitan yang dialami pada saat banjir. Meskipun mereka punya uang tapi karena kondisi pasar tidak berfungsi akibat banjir maka mereka tetap kesulitan untuk mencari kebutuhan makanan selain beras.

3. Jalur Evakuasi
       Rencana pembuatan jalur evakuasi merupakan salah satu dari rencana aksi yang sudah disepakati warga desa dalam kajian pedesaan partisipatif, karena pada saat terjadi bencana banjir warga desa gunungreja akan kesulitan untuk melakukan evakuasi, jalur jalur yang biasa digunakan untuk memberikan pertolongan sudah rusak, sehingga tidak aman lagi untuk dilewati hal ini justru bisa menimbulkan kerawanan kecelakaan saat mengevakuasi korban. Jalur evakuasi yang sudah disepakati tersebut berdasarkan pertemuan tim PRB telah disepakati sebagai jalur yang aman untuk mengevakuasi korban menuju ke lokasi pengungsian yang telah ditetapkan dan aman ketika terjadi bencana banjir. Masing-masing jalur sudah ada petugas yang mengkoordinasikan dalam hal pengevakuasian korban. Pemeliharaan dan maintenance jalur evakuasi ini dilakukan secara bersama-sama oleh warga masyarakat dan tim PRB desa. Jalur ini akan di sosialisasikan ke masyarakat desa gunungreja yang dilakukan oleh masing-masing petugas yang telah ditunjuk, dan dipasang penanda arah untuk evakuasi korban. Harapannya dengan dana swadaya masyarakat yang ada dan stimulan dari pihak yang berkompeten, jalur ini bisa menjadi bisa permanen dan aman bagi penyelamatan korban banjir.

No comments:

Post a Comment