SPESIALIS PENYAKIT DALAM CILACAP

SPESIALIS PENYAKIT DALAM CILACAP
RSI FATIMAH CILACAP

Tuesday, May 3, 2011

Catatan dokter Agus tentang DRR (45)

Pada Hari Sabtu, Tanggal 7 Februari 2009
ini adalah program aksi dari Rencana Tindak Lanjut hasil KPP selama 3 kali pertemuan yaitu tentang sosialisasi dan praktek pemanfaatan sampah organik bagi masyarakat desa Gunungreja. Jam 09.30 Wib, dr. Agus dan Sr. Editha menuju balai desa Gunungreja bertemu dan koordinasi persiapan sosialisasi dengan pak lurah serta aparat desa. Di Aula desa masih diadakan rapat koordinasi ibu-ibu PKK.
Tim dari Purwokerto datang pada pukul 10.15 Wib, yang terdiri atas Rm Teguh dari PSE Purwokerto, didampingi oleh tim dari HIPORMAS (Himpunan Petani Organik Banyumas) yaitu pak Sugeng (sebagai Ketua) dan pak Bekti (Asisten).
Jam 10.30 Wib, Acara dimulai diawali dengan sambutan dari pak lurah Lasiman, yaitu:
1. Ucapan terima kasih kepada Tim Perdhaki unit Sidareja, Tim PSE, Tim HIPORMAS dan warga masyarakat yang sudah datang meluangkan waktu untuk belajar bersama-sama meningkatkan pengetahuan dan kapasitas tentang pemanfaatan sampah dirumah tangga serta lingkungan sekitarnya secara bersama-sama.
2. Acara ini merupakan aksi nyata dari rekomendasi-rekomendasi yang telah disusun pada saat proses kajian masyarakat desa Gunungreja yaitu tentang program Pengurangan Resiko Bencana Oleh Masyarakat (PRBOM) yang sudah dilaksanakan selama 3 kali berturut-turut.
3. Motivasi warga masyarakat untuk cinta lingkungan dan kebersihan lingkungan, dengan pelatihan ini diharapkan warga masyarakat menjadi sadar akan kebersihan lingkungan dengan memanfaatkan dan mengolah sampah organik serta memisahkannya dari sampah anorganik sehingga dapat mengurangi resiko bencana banjir jika kegiatan ini dapat dilaksanakan secara serentak dalam masyarakat.
4. Materi dari pelatihan ini diharapkan langsung bisa dipraktekkan oleh ibu-ibu dengan memanfaatkan sampah-sampah organik dari rumah tangga dan menyampaikan pengetahuan ini kepada ibu-ibu yang lainnya (Dasa Wisma).
Acara selanjutnya adalah perkenalan tim dari Purwokerto yaitu oleh Rm Teguh, beliau memotivasi dan membuka kesadaran / pemahaman peserta pelatihan bahwa:
1. Sampah itu membawa berkah bagi masyarakat, jika bisa memanfaatkan, dan mengolahnya secara benar menjadi pupuk organik.
2. Ditinjau dari sisi ekonomi pupuk organik merupakan bahan yang murah, bisa digunakan untuk menyuburkan tanaman keluarga / pertanian tanpa membeli pupuk kimia dari luar yang harganya semakin mahal dan susah didapatkan, selain itu pupuk organik tersebut dapat dijual sehingga bisa menambah penghasilan keluarga.
3. Ditinjau dari sisi lingkungan, sebagai bukti implementasi keimanan kita kepada Tuhan Sang Pencipta berarti kita harus menghormati tanah, air, udara, mahluk hidup disekitar kita dengan tidak merusak dan mencemari lingkungan oleh sampah-sampah organik, anorganik atau bahan kimia, selain itu pemanfaatan sampah bisa mengurangi ancaman banjir yang sering terjadi di desa Gunungreja akibat tersumbatnya saluran air dan sungai oleh sampah-sampah yang dibuang secara sembarangan.
Materi selanjutnya disampaikan oleh pak Sugeng selaku ketua Hipormas, beliau sudah berpengalaman dalam hal pertanian organik yang sudah digelutinya selama kurang lebih 13 tahun di wilayah Banyumas / Purwokerto. Pada sesi ini lebih banyak sharing pengalaman dari beliau tentang pemanfaatan sampah organik baik untuk rumah tangga maupun lahan pertanian. Materi yang disampaikan sebagai berikut:
1. Setiap harinya dalam rumah tangga dapat dihasilkan sampah baik organik maupun anorganik yang begitu banyak jumlahnya, jika tidak diatur dan dimanfaatkan secara benar bisa menumpuk di lingkungan sekitar masyarakat, hal ini berdampak bagi kesehatan maupun salah satu penyebab terjadinya banjir di desa Gunungreja.
2. Sampah organik yang ada dirumah tangga bisa diolah menjadi pupuk organik melalui proses yang murah, cepat dan mudah dikerjakan oleh ibu-ibu dengan cara memanfaatkan sisa sayur-sayuran, buah-buahan, kulit buah, pembungkus makanan yang terbuat dari daun-daunan dan sisa-sisa makanan yang sudah tidak dimakan.
3. Cara pembuatan pupuk organik agar lebih cepat prosesnya dibantu dengan menggunakan Efektif Mikroorganisme (EM) yang dipasaran terkenal dengan merek EM4. Dalam pembuatan EM ini juga murah, praktis dan cepat dengan cara memanfaatkan sari buah-buah matang atau busuk yang sudah tidak dipakai lagi.
4. Cara pembuatan EM adalah sebagai berikut dengan cara mengumpulkan sari buah-buahan yang matang atau busuk, bisa berasal dari buah pepaya, jambu air, tomat, semangka, nanas, mangga, dan lain-lainnya. Buah matang tersebut diperas dan diambil sarinya, tidak boleh ditambahkan air dalam proses pemerasannya, setelah di peroleh sari buah baru ditambahkan air matang dengan perbandingan 1 : 1, misalnya didapat 2 gelas perasan air buah maka campuran air matangnya juga 2 gelas. Kemudian ditambahkan larutan gula pasir atau gula merah dengan perbandingan ¼ kg setiap 1 liter sari buah. Campuran sari buah, gula pasir dan air matang dimasukan ke dalam botol Jeligen, ditutup jangan terlalu kencang, biarkan selama 3 hari. Larutan yang didapat setelah 3 hari merupakan EM yang siap dipakai untuk membantu dan mempercepat pembuatan pupuk organik. Cairan EM ini bisa bertahan 1-1,5 tahun disimpan didalam botol.
5. Cara Pembuatan pupuk organik yaitu sampah organik yang ada dipotong kecil-kecil kurang lebih panjangnya 5 cm dengan menggunakan golok atau alat pemotong, kemudian ditambahkan EM ( 1 sendok teh cairan EM dicampur dengan air sebanyak 1 Liter), sampah organik tersebut diaduk-aduk sampai basah semua oleh larutan EM, kemudian didiamkan selama 3-12 hari. Hasilnya adalah pupuk organik yang siap dipakai untuk penyubur tanaman keluarga, tanah pertanian ataupun dijual.
Sesi pelatihan selanjutnya adalah praktek pembuatan EM yang dipandu oleh pak Bekti :
Disediakan bahan buah pepaya matang sebanyak 2 buah, gula pasir ½ kg, gula merah ½ kg Blunder, jeligen kecil, botol. Dari hasil perasan pepaya tersebut didapatkan sari buah sebanyak 5 gelas. (1 gelas = 200cc). Pada kesempatan tersebut ibu-ibu melakukan praktek pembuatan EM dari campuran gula pasir dan gula merah. 3 gelas sari buah dicampur dengan 3 gelas air matang dan 1,5 ons gula pasir, campuran tadi dimasukan kedalam jeligen kecil dan didiamkan selama 3 hari. Sedangkan untuk EM dari gula merah dibuat dengan cara 2 gelas sari buah dicampur dengan 2 gelas air matang dan 1 ons gula merah, campuran tadi juga sama dimasukan kedalam jeligen kecil diamkan selama 3 hari. Tutup botol jangan terlalu kencang. EM yang sudah jadi siap digunakan untuk membantu proses pembuatan pupuk organik.
Pada acara sesi tanya jawab para peserta antusias bertanya kepada pembicara tentang pemanfaatan sampah organik, jam 13.15 Wib acara sosialisasi / pelatihan ditutup oleh pak lurah Lasiman.






No comments:

Post a Comment